Berita | 5/11/2026 - 17:44

Jamu Sungai, Warisan Melayu untuk Menghargai Alam

Harianbisnis.com, Medan- Rerumputan masih basah dan tanah pun berair pertanda tak mampu menampung banyaknya curah hujan yang turun tengah malam hingga fajar menyingsing di tanah bertuah Deli yaitu kota Medan, Kamis pagi 5 November 2026.

Semilir angin dan sayup aroma setanggi semerbak berbaur dengan embun pada ujung daun di bantaran Sungai Deli, di kawasan Avros, untuk melaksanakan kembali salah satu warisan adat dan kebudayaan Melayu Deli, yaitu Jamu Sungai Deli.

Mengawali bulan November yang konon tersebut penuh curah hujan sebelum memasuki akhir tahun, terdengar senandung alunan ringan orkes melayu dibawah pepohonan tepi sungai nan bersejarah itu.

Tersebutlah sebuah hajatan yang bertajuk Jamu Sungai yang diadakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan dengan pihak Kesultanan Deli.
Al-kisah, dalam budaya Melayu, dikenal tiga ruang kehidupan yang memiliki hubungan erat dengan keberlangsungan masyarakat, yaitu:

Sungai, Bendang, dan Laut.
Sungai merupakan ruang air dan peradaban.
Bendang adalah ruang tanah, pangan, dan kesuburan.

Lalu laut adalah ruang rezeki, pelayaran, dan kehidupan masyarakat pesisir.
Dari ketiganya ini lahir tradisi Jamu Sungai, Jamu Bendang, dan Jamu Laut.
Ketiganya mengajarkan satu nilai nan setara: Manusia boleh mengambil manfaat daripada alam, tetapi manusia juga mempunyai kewajiban untuk menghormati, memelihara, dan menjaga keseimbangannya.

Pada Jamu Sungai kita diajarkan untuk menghormati sumber air dan kehidupan.
Lalu pada Jamu Bendang mengajarkan kita untuk menghargai tanah, pangan, kesuburan, serta kerja keras.

Adapun Jamu Laut mengajarkan kita untuk bersyukur atas rezeki, menghormati laut, serta memohon keselamatan bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya kepada laut.

Maka apabila hari ini kita melaksanakan Jamu Sungai Deli, sesungguhnya kita sedang menghidupkan kembali satu pandangan hidup, demikan Sambutan Sultan Deli XIV, Sri Paduka Tuanku Sultan Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alam Shah.

Beliau melanjutkan bahwa alam adalah bagian daripada kehidupan dan kehidupan harus berjalan dalam keseimbangan dengan alam.

Prosesi Jamu Sungai diawali dengan doa, memohon keselamatan, keberkahan, dan kelestarian kehidupan. Setelah itu, rangkaian adat berlangsung melalui simbol-simbol yang memiliki makna tersendiri dalam tradisi Melayu Deli.

Diiringi senandung, Tujuh anak dara tampil membawakan Tari Gebuk. Masing-masing membawa gebuk, berupa periuk tanah yang dihiasi anyaman lipan. Perlengkapan tradisional tersebut menjadi bagian penting dalam tata penyajian ritus.

Selanjutnya, tiga orang pawang membuka prosesi dengan bertabik kepada semesta, sebagai bentuk penghormatan simbolik terhadap tatanan alam dalam pemahaman adat Melayu.

Ketujuh anak dara kemudian menari di atas gebuk dengan gerakan teratur, sementara para pawang memperagakan gerakan bergaya silat dalam Tari Mayang dengan membawa mayang pinang.

Perpaduan gerak tari, perlengkapan upacara, dan tata prosesi memperlihatkan bahwa tradisi Melayu ini mengandungi kekayaan pengetahuan yang diwariskan melalui bahasa, simbol, gerak tubuh, serta keterampilan antargenerasi.

Diantara unsur yang menjadi pusat perhatian adalah lancing kuning, perahu adat berwarna kuning dengan ukiran khas Melayu dan bagian ujung berbentuk sayap layang.

Lancang ini memuat 44 jenis juadah atau sajian makanan khas Melayu. Masing sajian disusun dalam bilangan ganjil sesuai tata cara prosesi.

Keberadaan lancang memperlihatkan kesatuan berbagai unsur kebudayaan: seni ukir, pengetahuan pembuatan perahu, juadah tradisional, tata adat, dan filosofi kehidupan masyarakat Melayu Deli.
Ada pawang yang mensyarati dengan tandak mayang pinang.

Dan ada prosesi menghanyut lancang, yaitu melarungkan perahu kecil yang membawa perlengkapan atau syarat adat ke sungai.
Sedangkan menghanyut lancang merupakan simbol penyerahan doa dan harapan kepada Yang Maha Kuasa, sekaligus pengingat akan hubungan manusia dengan sungai.

Setelah melarung lancang itu, diadakan pelepasan benih ikan di derasnya sungai sebab hujan berkepanjangan dini hari tadi.
Pelepasan benih ikan ini membawa pesan bahwa sungai harus menjadi ruang kehidupan. Ikan tersebut juga harus dapat berkembang dan beranak pinak agar ekosistem dapat terjaga dan berkesinambungan
Masyarakat di bantaran sungai harus memiliki kesadaran bahwa menjaga sungai berarti menjaga kehidupan. Sebab sungai adalah salah satu ruang yang membentuk kehidupan masyarakat di wilayah ini.

Sejak peradaban awal di dunia sepanjang aliran sungai tumbuh permukiman, perdagangan, kegiatan pertanian, hubungan sosial, dan perjalanan kebudayaan. Oleh sebab itu, Sungai Deli bukan hanya persoalan lingkungan semata.

Sungai Deli juga merupakan persoalan kebudayaan. Ketika sungai tercemar, yang rusak bukan hanya mutu baku air. Sebagian daripada ruang budaya masyarakat juga ikut hilang.

Ketika masyarakat tidak lagi mengenal sungai, maka sebagian daripada ingatan peradaban juga ikut terputus.

Pengetahuan adat banyak tersimpan dalam ingatan para orang tua, pawang, tokoh adat, budayawan, dan keluarga-keluarga yang selama ini menjaga tradisi semakin tergerus.

Apabila pengetahuan itu tidak dicatat dan tidak diwariskan, maka kita menghadapi risiko kehilangan bagian penting daripada kebudayaan kita sabda sultan Deli yang juga pegiat lingkungan ini.

Menjadi pewaris kebudayaan berarti memahami mengapa tarian itu ditarikan, mengapa ritus itu dilaksanakan, dan nilai apa yang harus dilanjutkan. Mari kita jadikan Jamu Sungai Deli hari ini sebagai sebuah janji moral. Janji bahwa kita akan menjaga Sungai Deli. Jangan membuang sampah ke sungai.

Jamu Sungai Deli hari ini mudah-mudahan tidak berhenti sebagai sebuah acara. Biarlah ia menjadi titik temu antara adat, kebudayaan, lingkungan, pendidikan, dan kehidupan masyarakat.

Sebab kita tidak hanya ingin mengenang sungai. Kita ingin menjaga sungai. Kita tidak hanya ingin menampilkan adat. Kita ingin menghidupkan nilai adat. Dan kita tidak hanya ingin mewariskan cerita kepada anak cucu.

“Kita ingin mewariskan sungai, kebudayaan, dan kehidupan yang lebih baik kepada mereka. Akhirnya, dengan melaksanakan Jamu Sungai Deli ini dengan niat yang baik, dengan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan penghormatan kepada para atok moyang dan pemilik tradisi, serta dengan tekad untuk menjaga Sungai Deli sebagai bagian daripada warisan kehidupan dan kebudayaan kita,” ujar Sultan Deli mengakhiri kata sambutannya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan, Ahmad Barli Mulia Nasution, S.STP., M.AP., menekankan bahwa pelaksanaan Jamu Sungai mempunyai hubungan erat dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Menurutnya, kegiatan budaya yang disertai penebaran benih ikan merupakan salah satu bentuk penguatan kesadaran masyarakat untuk memelihara sungai sebagai sumber kehidupan.

Dalam adat kelahiran, misalnya, dikenal upacara turun ke sungai atau turun tanah. Hal ini memperlihatkan bahwa sungai mempunyai dimensi sosial dan simbolik yang menyertai perjalanan hidup manusia.

Sementara di tempat yang sama namun dalam waktu yang terpisah Kepala Bidang Kebudayaan Kota Medan, OK Zulfani Anhar, turut menekankan pentingnya memahami hubungan ketiga ruang kehidupan tersebut.
Acara yang berlangsung di Bantaran Sungai Deli Jalan Avros ini turut dihadiri Para Datuk Empat Suku, Raja Tanjung Kasau DYM Tengku Ismed Indra beserta Majelis Kedatukan Batubara serta unsur Forkopimda Kota Medan, tokoh masyarakat, dan para undangan.

Setelah lancang hanyut sejauh ratusan meter, ramai masyarakat mengambil juadah yang berada di dalamnya. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari dinamika tradisi yang menghadirkan antusiasme dan kegembiraan warga yang mulai was-was jika memasuki penghujung tahun atas curah hujan nan tinggi di hulu sungai. (Bob/HBC)

Loading next page... Press any key or tap to cancel.