Melayu Deli Bersinar di Kenduri Budaya Bintan 2026
Harianbisnis.com, Bintan- Warisan budaya Melayu Deli dari Kota Medan hadir dalam panggung Kenduri Budaya Bintan 2026, sebuah perhelatan kebudayaan yang mempertemukan beragam ekspresi budaya Nusantara di Kijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, pada 3–5 September 2026.
Partisipasi Pemerintah Kota Medan dalam perhelatan tersebut tidak sekadar menghadirkan pertunjukan seni, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar memperluas ruang dialog kebudayaan, mempererat silaturahmi antardaerah, sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi Melayu Deli kepada masyarakat yang lebih luas.
Delegasi Pemerintah Kota Medan dipimpin Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan, OK Zulfani Anhar, bersama Ketua Tim Kerja Lingkup Kesenian Bidang Kebudayaan, Masnur Lukito.
Kehadiran delegasi Kota Medan sekaligus menegaskan posisi seni tradisi sebagai jembatan kebudayaan yang mampu mempertemukan berbagai daerah melalui nilai, estetika, sejarah, dan identitas yang diwariskan lintas generasi.
Makan Berhidang: Ketika Adat Menjadi Jembatan Silaturahmi
Rangkaian kegiatan diawali pada Kamis, 3 September 2026, melalui tradisi Makan Berhidang bersama Badan Pelestarian Kebudayaan Kepulauan Riau, unsur pemerintah daerah, serta para pemuka adat Melayu Kepulauan Riau.
Dalam tradisi Melayu, Makan Berhidang bukan sekadar aktivitas menikmati hidangan. Ia merupakan representasi nilai kebersamaan, penghormatan, persaudaraan, dan adab.
Hidangan yang tersaji di atas talam dan ditutup dengan tudung saji, serta suasana duduk bersama, menciptakan ruang perjumpaan yang sederhana namun sarat makna.
Di sanalah kebudayaan bekerja dengan cara yang paling indah: mempertemukan manusia sebelum mempertemukan pertunjukan.
Tari Inai Melayu Deli: Ritus, Estetika, dan Marwah Tradisi
Pada malam harinya, panggung Kenduri Budaya Bintan 2026 semakin semarak melalui persembahan Tari Inai Melayu Deli.
Tari Inai merupakan salah satu bentuk tari klasik dan ritus tradisional Melayu Deli yang berkaitan dengan pelaksanaan malam berinai besar menjelang pernikahan bangsawan.
Dibawakan oleh tiga penari laki-laki, tarian ini menghadirkan kekayaan simbolik melalui penggunaan sejumlah perlengkapan adat, seperti inai, dian, setanggi, piring, dan pahar.
Keutuhan pertunjukan diperkuat oleh iringan musik tradisional Melayu, yakni Gendang Dua Muka, Serunai, Bangsi, Canang, dan Gong.
Gerak, bunyi, simbol, dan perlengkapan adat berpadu menjadi satu kesatuan artistik yang memperlihatkan karakter Melayu Deli: anggun dalam gerak, kuat dalam simbol, dan berakar pada tradisi.
Ronggeng Melayu Deli: Suara Tradisi yang Terus Berdenyut
Tidak berhenti pada Tari Inai, Kota Medan turut mempersembahkan Ronggeng Melayu Deli.
Kesenian ini merepresentasikan kekayaan seni pertunjukan Melayu Deli melalui perpaduan tari dan nyanyian secara berpasangan. Ronggeng berkembang dalam kehidupan masyarakat Melayu di Sumatra Timur dan memiliki jejak penting dalam dinamika sosial budaya kawasan tersebut, terutama pada masa kejayaan perkebunan tembakau pada paruh kedua abad ke-19.
Di panggung Bintan, Ronggeng Melayu Deli kembali menemukan ruang untuk berbicara kepada generasi masa kini.
Ia bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan warisan yang terus bergerak mengikuti zaman tanpa kehilangan akar budayanya.
Hasil dan Dampak Kegiatan
Keikutsertaan Pemerintah Kota Medan dalam Kenduri Budaya Bintan 2026 memberikan sejumlah hasil dan dampak positif bagi penguatan kebudayaan daerah.
Pertama, meningkatnya eksposur seni budaya Melayu Deli.
Persembahan Tari Inai dan Ronggeng Melayu Deli membuka ruang bagi masyarakat, pelaku budaya, serta delegasi dari berbagai daerah untuk mengenal lebih dekat karakter, sejarah, estetika, dan nilai yang terkandung dalam seni tradisi Melayu Deli.
Kedua, memperkuat diplomasi dan jejaring kebudayaan antardaerah.
Kegiatan ini mempertemukan Pemerintah Kota Medan dengan unsur kebudayaan dan pemangku adat di Kepulauan Riau. Pertemuan tersebut menjadi modal penting untuk membangun komunikasi, kolaborasi, serta pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam pelestarian kebudayaan.
Ketiga, memperluas ruang apresiasi bagi pelaku seni Kota Medan.
Keterlibatan tim binaan Bidang Kebudayaan memberikan kesempatan kepada seniman untuk tampil di ruang kebudayaan yang lebih luas, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri dan pengalaman mereka dalam membawa karya tradisi ke tingkat antardaerah.
Keempat, memperkuat regenerasi dan keberlanjutan seni tradisi.
Dengan menghadirkan seni tradisi di tengah ruang publik dan forum kebudayaan, generasi muda memperoleh pengalaman bahwa warisan budaya bukan sesuatu yang berhenti pada masa lalu, melainkan dapat terus dipelajari, dipentaskan, dikembangkan, dan diwariskan.
Kelima, memperkuat citra Kota Medan sebagai kota yang aktif dalam pemajuan kebudayaan.
Kehadiran delegasi Kota Medan menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjadikan seni dan budaya sebagai bagian penting dari pembangunan karakter, identitas daerah, serta hubungan kebudayaan dengan daerah lain.
Keenam, membuka peluang kolaborasi kebudayaan di masa mendatang.
Pertemuan antara pelaku dan pemangku kebudayaan dari Medan dan Kepulauan Riau berpotensi berkembang menjadi kerja sama dalam bentuk pertunjukan bersama, pertukaran seniman, dokumentasi, penelitian, edukasi budaya, maupun program pelestarian tradisi.
Dengan demikian, partisipasi Kota Medan tidak berhenti pada keberhasilan sebuah penampilan di atas panggung, tetapi menghasilkan ruang perjumpaan, jejaring, apresiasi, transfer pengetahuan, dan peluang kolaborasi kebudayaan.
Dari Melayu Deli untuk Nusantara
Kehadiran Pemerintah Kota Medan dalam Kenduri Budaya Bintan 2026 menjadi momentum penting dalam memperkuat jejaring kebudayaan antardaerah.
Melalui seni pertunjukan, Kota Medan membawa identitas Melayu Deli untuk hadir dalam percakapan kebudayaan yang lebih luas—bertemu dengan tradisi Melayu Kepulauan Riau dan berbagai kekayaan budaya Nusantara.
Sebab kebudayaan tidak hidup hanya di dalam museum atau catatan sejarah.
Kebudayaan hidup ketika dipraktikkan, dipentaskan, dihormati, dan diwariskan.
Dari Medan ke Bintan, dari Melayu Deli untuk Nusantara, Tari Inai dan Ronggeng Melayu Deli menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk memastikan warisan budaya tetap memiliki tempat terhormat di tengah perubahan zaman.
Kenduri Budaya Bintan 2026 menjadi ruang silaturahmi, ruang apresiasi, sekaligus ruang untuk meneguhkan kembali satu pesan penting:
Warisan budaya bukan sekadar masa lalu yang kita jaga, tetapi masa depan yang kita wariskan. (Bob/hbc)