Global | 16/08/2026 - 13:54

Dayang Nan Tujuh: Kala Sakralitas Melayu Deli Menghentakkan Jakarta

Harianbisnis.com, Jakarta- Gedung Kesenian Jakarta seolah berubah menjadi ruang ingatan.

Tujuh anak dara memasuki panggung dengan kebaya labuh dan sanggul Melayu Alunan diikuti sinandong Deli mengalun lembut. Aroma sirih dan kemenyan hadir sebagai bagian dari suasana. Gemulai tari, suara, musik, dan simbol perlahan menyatu.
Lalu, munculah sebuah pengalaman anggun yang tak hanya meminta penonton untuk menatap, namun untuk merasakannya.

Itulah “Dayang Nan Tujuh”, karya tari yang membawa napas kebudayaan Melayu Deli dari Medan ke panggung nasional dalam Festival Bedhayan VI Tahun 2026, yang berjalan di Gedung Kesenian Jakarta awal Agustus lalu.

Festival bertajuk “Memayu Hayuning Bawana” – Menjaga Keharmonisan Dunia tersebut menghadirkan sedikitnya 16 pertunjukan. Di tengah pusparagam estetika dan filosofi Jawa, “Dayang Nan Tujuh” datang melanting perspektif lain: kosmologi Melayu Deli yang kaya makna, ritus, suara, pun ingatan.

Saat pertunjukan dari Deli ini usai, tepuk tangan panjang nan bergemuruh meluap di dalam gedung.

Tujuh Dayang dan Kesan Alam Melayu
“Dayang Nan Tujuh” tidak dibangun semata-mata sebagai tari pertunjukan.

Tersirat ditemukan sinkretisme menghidupkan kembali cara pandang masyarakat Melayu terhadap hubungan manusia, alam, dan tatanan kosmologis.

Tujuh anak dara hadir sebagai sosok dayang yang bermakna simbolik dalam pemahaman Melayu klasik. Tujuh tersebut merepresentasikan petala langit sekaligus penjuru bumi dalam konstruksi alam Melayu.

Dalam narasi tradisional yang melatarinya, tujuh dayang bahkan memiliki kemungkinan untuk menjadi delapan melalui hadirnya unsur dari alam astral.
Bilangan serta sosok tersebut kemudian menjadi metafora tentang keseimbangan – antara yang terlihat dan kasat mata, antara manusia dan alam, serta antara kehidupan duniawi dan dimensi spiritual yang hidup dalam ingatan budaya masyarakat Melayu.
Karenanya, saat tujuh penari bergerak di atas panggung, yang hadir sesungguhnya bukan hanya tujuh tubuh penari.

Terdapat anggai yang dibawa. Terdapat kesan yang dihidupkan. Serta dunia Melayu Deli yang sedang diperkenalkan kembali.

Ketika Sinandong Menjadi Jalan Menuju Masa Lampau Diantara kekuatan paling menonjol dalam “Dayang Nan Tujuh” ialah sinandong.

Sinandong dedeng Deli dalam tujuh bait menjadi bagian utama dalam konstruksi dramatik pertunjukan. Suara insan tak ditempatkan sekadar sebagai pengiring tari, melainkan sebagai bagian dari suasana yang membawa penonton memasuki suasana Deli masa lampau.

Alunan musiknya menggunakan gaya sinandong dedeng, dengan instrumen tradisional Melayu seperti gendang dua muka, gendang dol, ketipung, canang, serunai, bangsi, arbab, serta gong.
Irama tersebut menjalin lanskap musikal tersendiri.

Terdapat dentang.
Tertabuh pukulan.
Mengalun lengking serunai.

Tertutur suara sinandong yang mengalir.
Lalu semua bertembung dengan gerak tujuh penari dan menciptakan suasana yang terasa ritualistik.

Pemakaian sirih, dian dan setanggi semakin memperkokoh dimensi tersebut. Sirih tak hanya properti, sementara cahaya, aroma dan asap setanggi bukan menjadi elemen visual semata.

Ketiganya berbaur menjadi penanda bahwa tampilan pertunjukan sedang dibangun sebagai ruang simbolik.
Oleh karenanya , panggung tak lagi sekadar menjadi tempat pergerakan.
Ia beralih menjadi ruang impresi.

“Saya Dibawa ke Alam Deli Beberapa Abad Lalu” Daya “Dayang Nan Tujuh” masih terasa setelah alunan berhenti dan para penari meninggalkan panggung.

Sejumlah pakar tandak dan seni pertunjukan yang hadir lalu berbincang mengenai karya tersebut. Diantara respons paling emosional datang dari Elly D. Luthan, koreografer senior.

Dengan mata berkaca-kaca, ia meyampaikan kekagumannya atas pertunjukan tersebut.

“Saya menemukan sakralitas tari Melayu yang benar-benar matang dalam Dayang Nan Tujuh. Saat sinandong itu, saya tidak bisa menahan tangis. Saya dibawa ke alam Deli beberapa abad lalu. Saya kagum atas pertunjukan ini.”

Ekspresi tersebut menjadi gambaran menarik akan sebuah karya tradisi dapat bekerja bukan hanya melalui koreografi.
Ia bekerja melalui rasa.
Melangkaui bunyi.
Merangkuh atmosfer.
Melewati simbol.
Dan terutama mengarungi ingatan budaya.
Pada titik ini “Dayang Nan Tujuh” menemukan kekuatannya.

Melayu Deli Bukan Sekadar Menari
Semasa ini, tari Melayu acap kali lebih dikenal awam melalui bentuk-bentuk pertunjukan yang mengedepankan keindahan lenggok, kelembutan, keceriaan, dan fungsi hiburan.

“Dayang Nan Tujuh” memberi makna yang lebih dalam.

Tari menjadi media untuk membaca kembali hubungan manusia dengan alam.
Tari mampu menjadi cara untuk mengingat leluhur.

Tari dapat menjadi medium untuk menghadirkan kembali pandangan kosmologis yang perlahan tergerus oleh perubahan zaman.

Dalam kondisi tersebut, “Dayang Nan Tujuh” menjadi lebih dari sekadar koreografi.
Ia adalah daya mengembalikan makna.
Ia mengingatkan bahwa kebudayaan Melayu Deli tak hanya memiliki bentuk yang indah, namun memiliki lapisan pemikiran, makna, dan spiritualitas nan majemuk.

Ketika Deli Bersawala dengan Jawa
Nomina “Dayang Nan Tujuh” dalam Festival Bedhayan VI menjadi semakin menarik sebab karya tersebut hadir di tengah lingkungan artistik yang kental akan warna Jawa.

Tema “Memayu Hayuning Bawana” membawa gagasan akan keharmonisan dunia. Sementara “Dayang Nan Tujuh” nomina melalui cara pandang Melayu Deli mengenai keseimbangan manusia, alam, dan jagat kosmologis.

Disimilaritas itu tak menjadi jarak. Sebaliknya, ia menjadi dialog. Jawa punya cara dalam memaknai keharmonisan.
PunMelayu Deli memiliki cara sendiri dalam memahami hubungan manusia dengan alam dan semesta.

Keduanya tidak harus dipertentangkan. Justru melalui panggung seni, perbedaan tersebut menunjukkan betapa luasnya cara masyarakat Nusantara memahami kehidupan.

Di Gedung Kesenian Jakarta, Deli tidak datang untuk menandingi Jawa.
Deli datang untuk memperkenalkan dirinya. Lagi pula bahasa yang dipilih adalah bahasa seni.

M. Muhar Omtatok dan Upaya Membawa Ingatan Deli ke Panggung Nasional
Di balik “Dayang Nan Tujuh” terdapat kerja kebudayaan yang tidak sederhana.
M. Muhar Omtatok mengomandoi pementasan sekaligus menjadi narasumber dan penulis sinandong. Tata tari digarap Mateus Suwarsono, tata musik oleh Zumaidi Abdullah.

Sesuatu yang dibanggakan, kepedulian Walikota Medan – Rico Tri Putra Bayu Waas terhadap kebudayaan. Beliau turut hadir memberi masukan dan motivasi langsung. Serta pendampingan dari Bidang Kebudayaan – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan yang terus berkerja nyata.

Diwajibkan penelitian. Dibutuhkan pemahaman akan symbol, serta
Diperlukan kemampuan membaca tradisi.
Dan tak kalah penting, diperlukan keberanian untuk menghadirkan kembali sesuatu yang sudah lama tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat.

M. Muhar Omtatok menjadi penting dalam proses “Dayang Nan Tujuh” yang membawa nama Deli ini.

Ia bukan sekadar membawa sebuah karya dari Medan ke Jakarta, tetapi turut membuka ruang diskusi akan Melayu Deli sebagai salah satu akar penting kebudayaan Kota Medan.

Dari Panggung Menjadi Jalan Pelestarian
Pelestarian kebudayaan acap kali diartikan sebagai pekerjaan menyimpan.

Menyimpan dan menjaga naskah, benda, dokumentasi, serta menyimpan arsip.
Padahal, tradisi hanya akan benar-benar hidup apabila ia masih mampu berbicara kepada manusia pada zamannya.

“Dayang Nan Tujuh” menyajikan hal tersebut. Tradisi tidak harus dibekukan agar tetap autentik.

Ia dapat dihadirkan kembali melalui panggung, selama nilai, simbol, konteks, dan ruh kebudayaannya tetap dijaga.
Tujuh anak dara itu kemudian menjadi semacam jembatan.

Mereka menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Menghubungkan Deli dengan Jakarta. Menghubungkan tradisi dengan generasi baru.

Dan menghubungkan kebudayaan lokal dengan panggung kebudayaan nasional.
Tujuh Anak Dara Membawa Suara Deli
Ketika tepuk tangan bergemuruh di Gedung Kesenian Jakarta, yang meraih apresiasi bukan dari sebuah pertunjukan tari semata.

Namun didalamnya terdapat pesan bahwasanya kebudayaan daerah masih memiliki daya hidup yang kuat ketika digali dengan kesungguhan.

Tari “Dayang Nan Tujuh” menggiring penonton pada sebuah perjalanan: dari alunan sinandong, gemulai penari, sirih dan setanggi, hingga musik tradisional yang membangun atmosfer Melayu Deli.

Untuk sesaat, Jakarta seperti diberi kesempatan untuk mendengar suara Deli.
Alunan yang mungkin telah berabad hidup dalam ingatan masyarakat.

Alunan yang kemudian diterjemahkan kembali melalui gemulai para penari.
Alunan yang akhirnya menemukan ruang di panggung nasional.

Dayang Nan Tujuh bukan sekadar tari tentang masa lalu. Namun cara Melayu Deli mengingat dirinya sendiri.

Ia adalah cara Medan memperkenalkan salah satu akar kebudayaannya kepada Nusantara.

Serta yang paling penting, ia menjadi pengingat bahwa ketika sebuah tradisi digali dari kedalaman akarnya, dirawat oleh pengetahuan, lalu dihadirkan dengan kesungguhan artistik, ia mampu menggetarkan insan saat ini.

Di Jakarta, tujuh dayang itu telah menari.
Bersama mereka, ingatan Melayu Deli kembali bergema. (Bob/ide : OK. Zulfan)

Loading next page... Press any key or tap to cancel.