Global | 2/10/2026 - 16:39

Medan dan Jalan Panjang Pemajuan Kebudayaan

Merawat Akar, Menjaga Peradaban, Membangun Medan Beridentitas

Harianbisnis.com, Medan — Pemajuan kebudayaan Kota Medan bukan sekadar agenda kegiatan seni dan budaya. Ia merupakan bagian dari arah pembangunan kota.

Dalam Misi 7: Medan Beridentitas, Pemerintah Kota Medan menempatkan kebudayaan sebagai bagian dari upaya mewujudkan Medan sebagai kota yang beridentitas dan berbudaya, dengan sasaran utama meningkatnya kelestarian budaya Kota Medan. Arah kebijakan tersebut mencakup perlindungan dan pemeliharaan cagar budaya, pembinaan sanggar, pelestarian Warisan Budaya Takbenda, penyediaan ruang kesenian, penelitian dan dokumentasi, hingga revitalisasi kawasan cagar budaya dan pengintegrasiannya dengan pengembangan pariwisata.

Dengan demikian, kebudayaan ditempatkan bukan sebagai pelengkap pembangunan, melainkan sebagai salah satu fondasi yang membentuk identitas kota.

Dari kebijakan menuju kerja kebudayaan

Arah kebijakan tersebut memberi pesan yang jelas: Medan harus tumbuh sebagai kota modern tanpa kehilangan akar sejarah dan budayanya.

Kebijakan itu diterjemahkan melalui beberapa agenda utama.

Pertama, memperkuat pelindungan warisan budaya. Data yang dipublikasikan Pemerintah Kota Medan mencatat 126 Cagar Budaya dan 154 Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB). Kekayaan tersebut harus dijaga melalui pendataan, penetapan, perlindungan, pemeliharaan, penelitian dan pemanfaatan yang sesuai dengan prinsip pelestarian.

Kedua, menghidupkan kembali ruang kebudayaan. Sanggar, ruang kesenian, kawasan heritage dan ruang publik perlu menjadi tempat bertemunya seniman, budayawan, komunitas dan generasi muda.

Ketiga, memperkuat kebudayaan takbenda. Tradisi, seni, bahasa, pengetahuan lokal, kuliner, musik, tari dan berbagai ekspresi budaya perlu didokumentasikan serta diwariskan, sehingga tidak hilang di tengah perubahan zaman.

Keempat, menghubungkan kebudayaan dengan pendidikan dan generasi muda. Warisan budaya harus hadir dalam pengalaman belajar, bukan hanya menjadi nama yang tercantum dalam buku sejarah.

Kelima, mengintegrasikan kebudayaan dengan pariwisata dan ekonomi kreatif tanpa menghilangkan nilai dan keaslian budaya. Dokumen kebijakan Pemko Medan sendiri menempatkan revitalisasi kawasan cagar budaya dan pengembangan kepariwisataan sebagai bagian dari strategi tersebut.

Negeri Deli sebagai salah satu akar

Dalam kerangka itu, Negeri Deli dan kearifan lokal Melayu Deli memiliki posisi penting dalam membaca sejarah dan identitas Medan.

Adat, kesantunan, marwah, gotong royong, musyawarah, penghormatan kepada orang tua dan tetua adat, seni, bahasa serta berbagai pengetahuan lokal merupakan bagian dari warisan yang perlu dikenali dan diwariskan.

Namun penguatan akar Negeri Deli tidak dimaksudkan untuk meniadakan kebudayaan lainnya.

Medan dibangun oleh perjumpaan berbagai kelompok masyarakat dan tradisi. Karena itu, Medan Beridentitas harus berarti Medan yang mengenal akarnya sekaligus menghormati keberagamannya.

Identitas tidak dibangun dengan menyeragamkan kebudayaan, tetapi dengan memberikan ruang yang adil bagi berbagai ekspresi budaya untuk hidup dan berkembang.

Warisan harus hidup

Tantangan pemajuan kebudayaan hari ini adalah memastikan warisan tidak berhenti sebagai objek yang dilindungi.

Warisan harus menjadi pengetahuan.
Pengetahuan harus menjadi kesadaran.
Kesadaran harus menjadi kebanggaan.
Dan kebanggaan harus melahirkan tanggung jawab untuk melestarikan.

Karena itu, digitalisasi informasi Cagar Budaya melalui QR Code menjadi salah satu bentuk pendekatan yang relevan dengan generasi sekarang. Teknologi dapat menjadi jembatan agar sejarah tidak berjarak dengan masyarakat.

Begitu pula dengan seni dan tradisi. Sanggar, komunitas dan pelaku budaya perlu mendapatkan ruang untuk melakukan regenerasi. Sebab kebudayaan tidak mungkin bertahan hanya karena pemerintah melindungi objeknya; kebudayaan bertahan karena ada manusia yang terus mempraktikkan dan mewariskannya.

“Merawat akar, menjaga peradaban”

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan, OK Zulfani Anhar, menegaskan bahwa arah pemajuan kebudayaan harus berangkat dari kesadaran terhadap akar sejarah kota.

“Merawat akar, menjaga peradaban. Bagi kami, ini bukan sekadar kalimat, tetapi semangat dalam menjalankan pemajuan kebudayaan Kota Medan. Kita tidak boleh membangun masa depan dengan melupakan akar sejarah dan budaya yang membentuk kota ini.”

Menurutnya, kebijakan kebudayaan harus menghasilkan dampak yang dirasakan masyarakat.

“Kita ingin warisan budaya tidak hanya dilindungi, tetapi dikenal, dipahami dan dimanfaatkan secara tepat. Kita ingin generasi muda mengenal sejarah kotanya, seniman dan budayawan memiliki ruang untuk berkembang, dan masyarakat merasa bahwa kebudayaan adalah bagian dari kehidupan mereka.”

Ia menambahkan, Negeri Deli merupakan salah satu akar penting dalam perjalanan budaya Medan.

“Merawat akar Negeri Deli bukan berarti menutup diri terhadap kebudayaan lain. Justru dengan memahami akar sendiri, kita dapat semakin menghargai keberagaman yang menjadi kekuatan Kota Medan.”

Penghargaan dan penghormatan kepada pelaku budaya

Penguatan ekosistem budaya juga membutuhkan penghargaan terhadap manusia yang berada di dalamnya.

Hal itu tercermin melalui Award Cagar Budaya dan Tokoh Kebudayaan Kota Medan 2026 pada 22 September 2026, yang menjadi bentuk apresiasi pemerintah kota kepada tokoh dan pihak yang berkontribusi dalam pelestarian serta pemajuan kebudayaan.

Di tingkat nasional, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia memiliki Anugerah Kebudayaan Indonesia, sebagai salah satu bentuk penghargaan negara terhadap insan, komunitas, lembaga dan pemerintah daerah yang berkontribusi dalam pemajuan kebudayaan.

Penghargaan tersebut memperlihatkan bahwa kerja kebudayaan membutuhkan ekosistem penghormatan: bukan hanya terhadap benda dan warisan, tetapi juga terhadap manusia yang menjaga, mengembangkan dan mewariskannya.

Arah akhirnya: kebudayaan sebagai kekuatan kota

Pada akhirnya, arah kebijakan kebudayaan Kota Medan harus bermuara pada satu hal: membangun kebudayaan yang hidup, inklusif dan berkelanjutan.

Bukan sekadar banyaknya acara.

Bukan sekadar banyaknya penghargaan.

Bukan sekadar jumlah objek yang terdata.

Tetapi bagaimana kebijakan tersebut menghasilkan warisan yang terlindungi, pelaku budaya yang berdaya, generasi muda yang mengenal identitasnya, ruang budaya yang hidup, pengetahuan lokal yang terdokumentasi, serta masyarakat yang semakin menghargai kebudayaannya.

Inilah substansi Medan Beridentitas.

Medan tidak harus memilih antara menjadi kota modern atau mempertahankan tradisi.

Medan dapat menjadi keduanya: modern dalam cara berpikir, maju dalam pembangunan, tetapi tetap berakar pada sejarah dan kebudayaannya.

Sebab sebuah kota yang kehilangan akar akan mudah kehilangan arah.

Dan sebuah kota yang mampu merawat akarnya akan memiliki kekuatan untuk menentukan masa depannya.

Merawat akar.
Menjaga peradaban.
Menghidupkan kebudayaan.
Membangun Medan Beridentitas.

(Bob/HBC)

Loading next page... Press any key or tap to cancel.