Rupiah Kembali Loyo Pasca The Fed Tahan Suku Bunga
Harianbisnis.com, Medan- Bank Sentral AS kembali mempertahankan besaran bunga acuannya di level 3.75%, sekaligus memproyeksikan bahwa laju tekanan inflasi AS (PCE) akan tetap tinggi hingga tahun 2028 mendatang. Yang artinya bahwa Bank Sentral AS berpeluang mengeluarkan kebijakan yang lebih bernada hawkish ketimbang sebaliknya.
Ekonom Gunawan Benjamin mengungkapkan, kebijakan AS yang mempertahankan bunga acuan membuat USD Index alami kenaikan di level 100.24. Kinerja mata uang Rupiah terpantau alami pelemahan di level Rp 17.850 per US Dolar. Mata uang Rupiah kembali alami tekanan karena The Fed berpeluang untuk setidaknya mempertahankan besaran bunga acuannya, dengan kemungkinan tambahan menaikkan bunga acuan satu atau dua kali di tahun 2026 ini.
“Selain kebijakan Bank Sentral AS, BoJ atau Bank Sentral Jepang juga telah menaikkan bunga acuannya menjadi 1% sekaligus yang tertinggio dalam 31 tahun belakangan. Kebijakan BoJ turut memperburuk kinerja mata uang Rupiah, dimana Yen Jepang selama ini dikenal sebagai mata uang yang dipergunakan dalam model transaksi carry trade,” jelasnya.
Ditambahkannya, ditengah pelemahan Rupiah, kinerja IHSG pada sesi pembukaan perdagangan di transaksikan melemah ke level 6.191. Sementara bursa saham di Asia pada perdagangan pagi ini ditransaksikan mixed dengan kecenderungan menguat. Selain terbebani dengan pelemahan mata uang Rupiah, pelaku pasar juga lebih berhati-hati jelang pengumuman review MSCI (Morgan Stanley Capital International), yang dijadwalkan akan diumumkan hari ini waktu perdagangan di eropa.
“Kabar yang paling dinanti apakah pasar modal tanah air akan tetap berada statusnya sebagai emerging market, atau justru turun kasta menjadi frontier market. Disisi lain harga emas dunia relatif tertahan di level $4.318 per ons troy atau sekitar 2.49 juta per gram,” tutupnya. (Ram/hbc)