Ekonomi | 30/07/2026 - 12:55

Sumut Diproyeksikan Inflasi Selama Bulan Juli, Dipicu Harga Beras Mahal

Harianbisnis.com, Medan- Harga daging ayam yang dalam dua pekan terakhir naik cukup signifikan, diproyeksikan belum akan memicu inflasi besar di bulan Juli. Daging ayam tetap akan memicu inflasi, namun kenaikan rata-rata harga daging ayam masih di kisaran 1%, sehingga impactnya ke inflasi sangat kecil.

Hal yang sama juga terjadi pada telur ayam, walaupun belakangan naik karena musim libur anak sekolah usai dan MBG kembali dibagikan, namun secara rata-rata harga telur ayam masih lebih rendah dibandingkan dengan bulan Juni.

Ekonom Gunawan Benjamin menjelaskan, kedua komoditas tersebut akan menyumbang inflasi besar pada bulan Agustus mendatang. Sementara itu harga komoditas yang alami kenaikan pada bulan juli ini diantaranya ada beras naik 1.5% hingga 5%, bawang putih naik sekitar 2.1%, serta cabai rawit hijau yang naik hingga mencapai 54%. susu bubuk naik hingga 7%, tomat dan wortel naik sekitar 10% dan 14%, bayam, sawi hijau hingga kentang juga terpantau naik.

“Selain komoditas pangan, sejumlah kebutuhan rumah tangga lainnya juga alami kenaikan. Seperti shampoo, pembalut, popok bayi. Dan sejumlah kebutuhan bangunan juga alami kenaikan seperti besi, semen, cat tembok hingga batu bata. Walaupun khusus untuk batu bata belakangan ini sempat turun harganya, dan cenderung lebih murah dibandingkan dengan harga awal saat terjadi kenaikan serentak pada komponen bahan bangunan,” ujarnya.

Selain itu, ditambahkannya, sejumlah komoditas pangan yang alami penurunan pada bulan juli diantaranya adalah bawang merah sekitar 16%, dan cabai merah sekitar 19%. Walaupun khusus untuk cabai merah di pasar modern harganya terpantau masih alami kenaikan. Ini lebih dikarenakan oleh manajemen supply atau stock yang dilakukan oleh ritel modern itu sendiri.

“Selain komoditas pangan, kebutuhan rumah tangga seperti sabun deterjen dan sebagian tiket pesawat premium alami penurunan harga. Namun untuk jenis pesawat kelas ekonomi justru mengalami kenaikan harga. Untuk harga emas dilapangan juga terpantau alami kenaikan sekitar 10%. Jadi secara keseluruhan Sumut masih berpeluang untuk mencetak inflasi diatas kisaran 0.17%,” ucap Gunawan.

Gunawan mengingatkan, pemerintah perlu mewaspadai inflasi hingga penutupan akhir tahun yang diproyeksikan akan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor cuaca serta dampak dari pelemahan mata uang Rupiah terhadap US Dolar. Komoditas pangan diporyeksikan akan tetap memberikan kontribusi dominan untuk potensi laju kenaikan inflasi di masa mendatang.

Dan jika mengacu pada pembentukan harga pokok produksi dilevel petani, harga keekonomian produk pertanian alami tentunya alami kenaikan. Penyesuaian pada harga pokok produksi ataupun harga pokok penjualan saat ini memberikan ruang bagi kenaikan harga produk pertanian. Karena komponen pembentukan harga pokok produksi telah naik setelah perang Iran – AS pecah dan memicu pelemahan Rupiah.

“Jika realisasi harga pangan kedepan justru lebih rendah dari harga pokok penjualan atau harga pokok produksi. Hal tersebut akan menjadi ancaman bagi besar bagi pengendalian inflasi. Ancaman tersbeut diantaranya ada gagal modal (kesulitan bercocok tanam kembali), hutang petani menumpuk, hingga alih fungsi lahan. Jika itu terjadi maka yang terjadi selanjutnya adalah inflasi yang sulit untuk dikendalikan,” pungkasnya. (Ram/HBC)

Loading next page... Press any key or tap to cancel.