Ekonomi | 1/09/2026 - 11:05

Ribut Masalah Desil, Ada Dua Hal Utama Pemicunya

Saya menilai ada dua hal utama yang memicu keluhan masyarakat terkait dengan peringkat status desil . Sehingga banyak masyarakat yang mengajukan perubahan peringkat atau desil. Yang pertama dipicu oleh penilaian desil yang mengandalkan indikator pendekatan secara tidak langsung atau proxy means testing.

Dimana penentuan desil menggunakan sejumlah indikator proxy seperti kondisi bangunan rumah, kepemlikan terhadap aset barang, pekerjaan, Pendidikan hingga pengunaan daya listrik. Sehingga dengan pendekatan seperti ini memiliki kelemahan uatama dalam hal akurasi pengelompokan kesejahteraan sosial. Sebagai ilustrasi seorang supir mobil rental, yang kebetulan mengenyam Pendidikan tinggi, memiliki rumah permanen warisan tentunya akan mudah dipersepsikan sebagai orang yang mapan.

Padahal jika ditelusuri lebih dalam kita bisa mendapatkan gambaran fakta yang bisa menepis anggapan awal kita tersebut. Seperti ternyata kerjanya tidak menentu, mobil lebih sering parkir dari pada mengangkut penumpang, pendapatan tidak sebanding (lebih rendah) dari pengeluaran kebutuhan dasar, terjerat hutang atau hal-hal lain yang membuat pengelompokan kesejahteraan memiliki kesalahan atau deviasi (eror).

Terlebih bila indikator proxy tadi melakukan pendekatan yang homogen. Misalkan desil diukur dari masyarakat yang berada di komplek perumahan mewah, diaasumsikan semuanya masuk dalam desil 10. Bisa saja pendekatan tersebut memang benar menggambarkan bahwa rata-rata masyarakat didalamnya masuk dalam desil 10. Tetapi tidak menutup kemungkinan adanya kesalahan dalam pendekatan tersebut.

Kedua perubahan status sosial yang sangat cepat ditengah dinamika ekonomi yang cenderung melemah. Sebagai contoh membayangkan bagaimana pendapatan driver ojol saat dimana industri jasa ini mulai hadir ditengah kita. Banyak yang memberitakan bahwa pendapatan ojol mencapai dua digit (diatas 10 juta), tetapi lihat situasinya sekarang.

Atau kita buat pendekatan yang lebih menggambarkan reallita saat ini. bagaimana efisiensi pemerintah membuat kegiatan rapat di hotel ditiadakan. Dampaknya akan langsung dirasakan bagi pekerja perhotelan yang bisa saja jam bekerjanya dikurangi atau bahkan kehilangan pekerjaannya. Atau sejumlah tukang bangunan yang belakangan kontraktornya tidak mendapatkan proyek konstruksi karena efisiensi.

Sehingga status sosial ekonomi seseorang berubah cepat disitu. Jika tidak dibarengi dengan pemutakhiran data yang adaptif, maka data yang tersaji tidak lagi mencerminkan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang sesungguhnya. Sekalipun data dikumpulkan dari banyak instansi lalu dilakukan analisis.

Saya menyarankan agar masyarakat segera mengecek desilnya masing-masing serta mengajukan perubahan data jika desil tersebut tidak menggambarkan realita sebenarnya. Perangkat pemerintah setempat level lurah atau kepala desa hingga kepling harus seadaptif mungkin melihat perubahan kondisi sosial ekonomi warganya. Dan lakukan pengecekan satu persatu status desil warganya agar segera mengajukan perubahan data atau klarifikasi jika desil tidak menggambarkan kondisi sosial ekonomi warganya.

Penulis: Gunawan Benjamin (Pengamat Ekonomi) 

Loading next page... Press any key or tap to cancel.