Pemotongan Sapi Qurban Melemah Tahun 2026, Bukti Masyarakat Mulai Mengerem Belanja
Harianbisnis.com, Medan- Idul Adha sudah terlewati, dari pemantauan sebelumnya banyak peternak yang mengeluhkan dagangan hewan qurban, tidak semeriah tahun sebelumnya. Padahal jika melihat data perhitungan jumlah sapi qurban dari David Yasin Consulting, terjadi kenaikan 2.38% pemotongan sapi atau melemah signifikan dibandingkan periode tahun 2025 yang alami kenaikan belasan persen.
“Sampel data diambil dari 513 mesjid/mushollah di wilayah Deli Serdang dan Kota Medan. Walaupun secara keseluruhan sapi yang dipotong alami kenaikan, namun mengapa pedagang atau peternak mengeluhkan sepinya pembeli sapi pada tahun ini?. Saya menyimpulkan ada beberapa faktor yang membuat peternak atau pedagang mengeluh,” ungkap ekonom Gunawan Benjamin, Senin (8/6/2026).
Ditambahkannya, pertama, banyak masyarakat kita yang sudah merencakan untuk berqurban sejak tahun 2025. Modelnya dalam bentuk mengumpulkan uang secara bersama-sama atau arisan, yang nantinya uang tersebut digunakan untuk berbelanja sapi ke pedagang atau peternak. Model seperti ini bisa memastikan jumlah sapi yang akan diqurbankan selanjutnya. Dan di level ini peternak sudah mendapatkan kepastian jumlah sapi yang harus disediakan dan siap untuk dipotong (inden).
“Kedua, diluar sapi yang memang sudah dalam bentuk inden, peternak juga memliki sapi lain yang kerap diperdagangkan saat jelang Idul Adha. Nah disinilah saya pikir peternak atau pedagang merasakan serapan yang lebih rendah untuk sapi yang mereka jual, dan disinilah keluhan itu muncul. Terlebih bagi peternak yang memiliki ekspektasi terjadi peningkatan penjualan (belasan persen) yang sempat dinikmati di tahun sebelumnya,” jelasnya.
Dituturkan Gunawan, ketiga, pedagang sapi tidak mendapatkan harga yang pantas, karena belakangan sapi bakalan (impor) itu harganya naik tinggi. Bahkan harga daging sapi di tahun ini sudah berada di kisaran Rp 140 hingga Rp 150 ribu/kilo. Sementara tahun lalu masih bisa berada dikisaran Rp 120 hingga Rp 130 ribu/kilo. Sehingga yang terjadi adalah kinerja penjualan alami pelemahan di tahun ini.
“Secara keseluruhan saya menilai belanja masyarakat benar-benar tengah direm. Dugaan melemahnya pembelian sapi dari masyarakat di luar arisan mencuat. Ini menjadi gambaran kondisi belanja masyarakat kita yang tertekan belakangan ini. Sekalipun tidak diatur secara spesifik kriteria masyarakat mampu yang layak berkurban, namun idul adha tetap selalu mendorong sikap antusias masyarakat untuk melaksanakan kurban dari kelas ekonomi manapun,” pungkasnya. (Ram/hbc)