Teater sebagai Strategi Jurnalis Menyampaikan Pesan: Belajar dari “Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan”
Di tengah derasnya arus informasi digital, jurnalisme menghadapi tantangan baru, bagaimana membuat publik tidak hanya mengetahui sebuah peristiwa, tetapi juga merasakan maknanya. Berita sering kali cepat dibaca lalu dilupakan. Karena itu, sebagian jurnalis mulai mencari cara lain untuk menyampaikan cerita. Salah satunya melalui panggung teater, dimana para jurnalis hadir lengkap dengan suara, tubuh, dan rasa yang hidup diatas panggung.
Pendekatan ini terlihat dalam pertunjukan teaterikal kemanusiaan “Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan” yang digagas oleh Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), dan disutradarai seniman teater dari Medan, Hafiz Taadi, pendiri Medan teater Tronic (MTT). Pertunjukkan para jurnalis perempuan dan seniman Medan ini, digelar Sabtu, 7 Maret 2026, di Auditorium Bung Karno, Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) Medan, Jalan Sunggal Medan.
Pertunjukan tersebut mengangkat kisah perempuan dan anak-anak, yang bertahan menghadapi bencana banjir, dan berbagai persoalan sosial yang menyertainya. Materi cerita tidak lahir dari imajinasi semata, tetapi dari reportase, wawancara, pengalaman lapangan para jurnalis, juga pengalaman langsung para korban banjir bandang dan longsor, yang terjadi di Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat), pada akhir November 2025. Pertunjukan teater ini menjadi ruang refleksi sekaligus pengingat bagi public, bahwa empat bulan pasca bencana, data Satgas Penanggulangan Bencana Nasional, ada sekitar 13.000 pengungsi yang bertahan hidup di tenda-tenda darurat. Di tengah kondisi tersebut, perempuan, anak-anak, lansia, serta penyandang disabilitas sebagai kelompok, rentan membutuhkan perhatian dan perlindungan yang berkelanjutan.
Dari Fakta Menjadi Pengalaman
Dalam praktik jurnalisme konvensional, fakta biasanya disampaikan melalui teks, foto, atau video. Namun dalam teater, fakta berubah menjadi pengalaman langsung. Penonton tidak sekadar membaca tentang penderitaan korban bencana, tetapi menyaksikan emosi, konflik, dan ketahanan manusia yang ditampilkan di panggung.
Pendekatan ini sejalan dengan gagasan narrative paradigm dari Walter Fisher yang menyatakan bahwa manusia memahami dunia melalui cerita (storytellers). Cerita yang kuat mampu membangun keterhubungan emosional yang lebih dalam, dibandingkan sekadar data atau laporan berita. Ketika kisah jurnalistik dihadirkan dalam bentuk dramatik, pesan yang disampaikan menjadi lebih membekas.
Teater sebagai Jurnalisme Empati
Pertunjukan “Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan” menunjukkan bagaimana jurnalisme dapat bergerak dari sekadar penyampai informasi menjadi medium empati. Kisah perempuan yang menghadapi banjir, kehilangan, serta tanggung jawab keluarga memberi ruang bagi public, untuk memahami sisi kemanusiaan dari sebuah peristiwa.
Dalam perspektif komunikasi, pendekatan ini berkaitan dengan konsep human interest journalism, jurnalisme yang menekankan pengalaman manusia di balik peristiwa.
Sementara itu, teori framing dari Robert Entman menjelaskan bahwa media selalu memilih sudut pandang tertentu dalam menyampaikan realitas. Melalui teater, framing tersebut menjadi lebih kuat karena didukung ekspresi aktor, dialog, musik, dan visual panggung. Akhirnya pesan tidak hanya dipahami secara rasional tetapi juga dirasakan secara emosional.
Hubungan antara teater dan jurnalisme bukanlah hal baru. Dalam sejarahnya, banyak karya teater dokumenter yang bersumber dari laporan investigasi, wawancara, hingga dokumen pengadilan. Konsep ini pernah dijelaskan oleh tokoh teater dokumenter Peter Weiss, yang melihat panggung sebagai ruang untuk menghadirkan fakta sosial kepada publik. Namun dalam konteks Indonesia, penggunaan teater oleh komunitas jurnalis seperti FJPI memberi warna baru, yang menunjukkan bahwa jurnalisme tidak harus selalu hadir dalam format berita tradisional.
Sebelumnya FJPI sudah mulai menggunakan teater sebagai medium penyampaian pesan jurnalistik, sejak 2024, bersamaan HUT 17 FJPI, dengan pementasan berjudul Tulang Panggang, yang menyuarakan tentang kondisi real yang dihadapi jurnalis perempuan ketika bekerja. Kondisi tersebut menjelma tidak hanya menjadi pertunjukan, diskusi publik, bahkan gerakan sosial, salah satunya melakukan
Menghidupkan Kembali Makna Liputan
Di era media sosial, tantangan terbesar jurnalisme adalah perhatian publik yang semakin pendek. Banyak berita penting tenggelam dalam arus informasi yang cepat. Pendekatan teater menawarkan sesuatu yang berbeda: pengalaman yang tidak bisa di-scroll atau dilewati begitu saja. Penonton duduk, menyaksikan, dan merasakan cerita secara utuh. Di situlah pesan jurnalistik menemukan ruang baru.
Pertunjukan seperti “Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan” menunjukkan bahwa karya jurnalistik tidak selalu harus berhenti di halaman berita, tetapi bisa berkembang menjadi ruang refleksi sosial yang lebih luas. Selain menjadi ruang refleksi, pertunjukan teater ini sekaligus pengingat bagi publik, bahwa empat bulan pasca bencana, ada sekitar 13.000 pengungsi yang bertahan hidup di tenda-tenda darurat. Di tengah kondisi tersebut, perempuan, anak-anak, lansia, serta penyandang disabilitas sebagai kelompok, rentan membutuhkan perhatian dan perlindungan yang berkelanjutan.
Apa yang dilakukan sekitar 20 orang pemain, termasuk lima jurnalis perempuan, tiga seniman teater dari Medan Teater Tronic dan Teater Dermaga, serta delapan siswa Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), dalam proyek teaterikal ini menunjukkan satu hal penting: jurnalisme adalah praktik yang terus berkembang. Selama tetap berpijak pada fakta, verifikasi, dan kepentingan public, seperti yang ditekankan oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, cara penyampaian cerita dapat terus bereksperimen. Teater menjadi salah satu kemungkinan itu.
Di panggung, berita tidak hanya dibaca.
Berita menjadi lebih hidup melalui gerak, dialog, ekspresi, dan menyentuh hati penontonnya, dan pesan jurnalistik memiliki peluang lebih besar untuk benar-benar dipahami.
Nurleli, S.Sos, M.I.Kom
Penulis adalah Dosen Komunikasi di STIKP Medan