Berita | 18/03/2026 - 20:37

Jurnalis Perempuan dan Seniman Satukan Hati, Salurkan Donasi Kemanusiaan untuk Penyintas Banjir Aceh Tamiang

Harianbisnis.com, Aceh Tamiang- Empat bulan pasca-bencana banjir bandang dan longsor di Aceh Tamiang, ratusan warga Desa Pantai Tinjau, Kecamatan Sekerak masih bertahan di tenda pengungsian. Debu lumpur menempel di mana-mana, rumah-rumah rusak belum tertata. Namun, semangat bangkit mereka tetap menyala.

Air mata haru dan senyum harapan mengalir deras dari wajah-wajah warga yang berkumpul di Aula Yayasan Ahmad Basyirdarussalam, Desa Pantai Tinjau, Aceh Tamiang, Selasa (17/3/2026). Sebanyak 255 kepala keluarga penyintas banjir bandang dan longsor November 2025, menyambut rombongan dari Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) yang berkolaborasi dengan Rumah Literasi Ranggi (RLR) dan Medan Teater Tronic (MTT).

Penyaluran donasi berupa bahan pokok, uang tunai, serta ratusan buku ini bukan sekadar bantuan materi, melainkan panggilan hati yang dibalut seni dan literasi. Sebanyak 10 aktor asuhan pelatih dan sutradara Hafiz Taadi dari FJPI, RLR dan MTT yang pada 7 Maret lalu mempertunjukkan Teater Kemanusiaan Performance Journalism “Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan” di Auditorium Bung Karno Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) Medan, mengantarkan langsung bantuan dari hasil penggalangan donasi pementasan teater tersebut ke masyarakat Aceh Tamiang.

Gerakan kemanusiaan untuk mengembalikan perhatian semua pihak kepada penyintas bencana Sumatera ini didukung oleh DAAI TV Medan, Yayasan Budha Tzu Chi, Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) Medan, Teater Dermaga, INALUM, India Expatriate Association Medan, Permata Hijau Group, serta Pertamina EP, dengan bantuan relawan dari Sekolah Inspirasi Bangsa Tamiang dan Datok atau Kepala Desa Pantai Tinjau, Evi Ananda.

“Saya salut dan terkejut. Jurnalis perempuan ternyata begitu banyak dan peduli. Mewakili warga, saya sangat berterima kasih, terutama dari FJPI dan seniman yang hadir,” ujar Datok Evi dengan suara bergetar.
Hafiz Taadi mewakili seniman menekankan kekuatan kolaborasi dalam aksi kemanusiaan untuk penyintas bencana Sumatera ini. “Kami prihatin dengan dampak bencana yang masih harus dijalani warga setelah empat bulan bencana, dan kami ingin membantu, maka kami bersama-sama berkolaborasi melalui seni. Seni adalah cara kami berbagi,” ucapnya.

Khairiah Lubis, Ketua Umum FJPI, membuka acara dengan mengenang pementasan perdana teater kemanusiaan pada 7 Maret 2026 di Aula Bung Karno (YPSIM) Medan.
“Teater dipilih karena pers global terus berinovasi untuk menarik perhatian. Melalui tubuh dan dialog, pesan menembus emosi. Alhamdulillah pementasan teater kemarin mudah-mudahan bisa mengingatkan dan menyuarakan kembali kondisi pengungsi yang perlu penanganan serius dan cepat, dan hasil donasi semoga bisa bermanfaat untuk penyintas bencana di Desa Pantai Tinjau,” kata Khairiah.

Acara penyerahan hasil donasi semakin mengharukan ketika salah satu actor dari teater Dermaga Belawan, Rindy Rayani, membaca puisi berjudul Suara dari Sumatera. Kata-katanya memotivasi warga hingga menangis.
“Puisi itu seperti obat penyembuh luka batin, menyentuh jiwa kami yang masih terluka,” kata seorang warga.
Sementara itu, Ranggini, Pendiri RLR, menyerahkan ratusan buku cerita dan pengetahuan kepada anak-anak desa Pantai Tinjau.

“Buku adalah jendela dunia bagi anak-anak di sini. Mereka butuh mimpi baru setelah kehilangan rumah dan kenangan,” ucapnya sambil tersenyum hangat. Kolaborasi lintas sektor ini membuktikan, jurnalisme bukan hanya suara fakta, tapi aksi nyata. Di Pantai Tinjau, Sekerak, harapan mulai bersemi kembali. (Leli/hbc)

Loading next page... Press any key or tap to cancel.